Admin lagi asik sendirian. Maaf kalau update postingannya agak lama yah?! Soalnya nulis postingannya musti ke warnet dulu, kagak punya kompi saya. CM Net teman setia. Tapi hidupnya blog ini akan tetap diusahakan. Kalau ada kritik dan saran, silahkan mail ke:
First of all, happy mom’s day, All. Ibu mungkin adalah sosok yang tidak akan habis cerita untuknya. Akan selalu ada kisah dan kita semua punya. Lewat postingan ini saya ingin bercerita tentang ibu. Sekaligus tulisan saya yang pertama tentang ibu.
Ini adalah cerita tentang kamu, Ibu. Tentang semua yang masih kuingat sejak saya sudah bisa mengingat.
Saya masih ingat ketika kita masih tinggal di sebuah desa bernama Desa Lise, di dalam sebuah rumah kayu di kamar tengah. Di depan lemari yang masih ada di rumah kita sampai sekarang. Umur saya waktu itu entah, saya melihatmu bersama kakakmu dari dalam ayunan yang kau buatkan dari kain sarung bermotif batik. Waktu itu kamu memarahi saya yang terus menangis, entah juga karena apa. Saya tidak keberatan jika kamu waktu itu itu tidak bisa mendiamkan saya sampai meminta tolong kakakmu. Saya maklum waktu itu kamu marah karena saya terus saja menangis. Saya maklum. Itu adalah tahun pertama atau mungkin kedua mu sebagai ibu.
Saya ingat, masih di kamar tengah itu. Malam, kita bercerita. Kamu bercerita tentang Abu Nawas yang memberi makan ayam peliharaannya dengan emas. Saya ingat, saya di dekapanmu, saya menceritakan mimpi saya. Dan kamu mengiyakan saja apa yang saya katakan. Karena kamu tidak ingin saya kecewa. Saya ingat saat itu.
Saya ingat ketika saya berusia tiga tahun. Waktu kamu hendak ke rumah kakakmu. Saya menyusul dengan berjalan terburu-buru menuruni tangga kayu di rumah panggung kita. Dan karena asik menghitung mundur jumlah anak tangganya, di tiga anak tangga kayu terakhir, saya hilang keseimbangan hingga jatuh dan membuat dahi kiri saya berdarah parah. Lalu yang saya ingat kita sudah ada di puskesmas. Kamu menunggui saya yang sedang diobati. Bayangan saat it masih terekam dan tidak hilang seperti bekas luka yang masih ada di dahi sebelah kiri saya hingga saat ini.
Saya juga ingat ketika rambut saya mulai panjang, tkia duduk di anak tangga itu. Kamu memegang gunting dan mencukur sendiri rambut saya, juga ketika di bulan puasa, kamu mengajakku ke masjid. Saat kamu tengah menunaikan shalat Tarawih, saya justru sedang bermain-main dengan koin Rp. 100,- yang kamu berikan.
Atau ketika saya merengek minta dibelikan balon gas. Di kamar belakang rumah kita saat kamu sedang berdandan, hingga akhirnya kamu membelikan balon gas seharga seratus rupiah. Sebuah Balon gas berwarna merah.
Tentang sekolahmu, tentang pengabdianmu sebagai guru. Saya ingat ketika pagi-pagi kamu mengendarai sepeda motor Suzuki berwarna putih ke SD Negeri 4 Lise, dan saya dibonceng sambil memelukmu dari belakang dengan tangan-tangan kecil saya. Kita menelusuri jalan sepanjang sungai tempat saya sering berenang bersama teman-teman dan kamu sering memarahi saya jika tahu saya berenang di sana.
Juga ketika kamu, bersama murid-murid kelas empatmu mengikuti pementasan tari tradisional. Kamu menjaga mereka seakan kamu adalah ibu kandung mereka. Semua yang kamu lakukan sebagai guru membuat saya belajar menghargai semua guru saya. Menjadi sepertimu tidak mudah.
Saya ingat, kita sahur bersama dengan ayah dan Evi. Kamu masih ingat Evi?! Teman kecil saya yang tinggal di depan rumah kita dulu. Terlalu banyak cerita tentang mu, Bu. Saya ingin menceritakan semuanya! Ingat ketika saya menyusulmu ke sekolah yang jauhnya berkilo-kilo meter dengan sepeda ungu kecil saya yang masih lengkap dengan roda bantunya?!
Saya ingat kamu dengan sabar mengoleskan sesuatu di kepala saya saat saya sedang mengeluh sakit kepala empat belas tahun yang lalu, di ruang tengah rumah panggung kita.
Semuanya tidak berubah saat saya bukan lagi anak tunggal. Cinta mu tidak terbagi tapi berlipat. Terbukti ketika kamu membagi makanan yang kamu bawakan untuk kami berdua, kamu bagi persis sama rata. Tapi saya tahu, cintamu yang paling besar masih untuk saya.
Saya ingat ketika saya meninggalkanmu dan pergi duluan ke sekolah di hari pertama saya sekolah dan salah masuk ruangan kelas, bahkan salah sekolah. Semuanya karena kamu terlalu bersemangat bercerita tentang sekolah. Dan membangga-banggakan celana merah hati yang kamu belikan untukku. Celana merah hati dan kebanggaan bersekolah yang membuat saya sama sekali tidak pernah membolos sewaktu sekolah. Semua ceritamu.
Atau ketika kita ke pasar sentral Amparita, selalu kamu sisihkan uang untuk membelikan poster Ksatria Baja Hitam untuk kutempel di dinding depan meja belajarku.
Masih banyak kisah tentangmu. Masih sangat banyak. Ingat waktu kamu dibuat menangis oleh ayah dua belas tahun lalu?! Saya ada di sana dan tidak mengerti apa-apa. Tapi saya ingat semuanya. Seperti saya masih ingat ketika saya membantumu memanen cabe merah di kebun kita. Kamu masih ingat?!
Entahlah, yang saya tahu sejak umur mu dua puluhan hingga empat puluh cintamu masih sama. Bahkan semakin besar. Ingat Beberapa bulan yang lalu waktu saya sakit?! Kamu ada di sebelah saya. Mengoleskan sesuatu di kepala saya hingga saya merasa jauh lebih baik. Persis seperti empat belas tahun yang lalu, waktu itu saya menangis, Bu. Saya sadar saya menangis. Sudahlah, cerita tentangmu kusudahi sampai di sini. Meskipun masih terlalu banyak. Tapi intinya cuman satu. Kalaupun sekarang saya yang mengantarmu ke sekolah dengan Suzuki hitamku. Kalaupun sekarang anakmu ada empat orang. Saya masih yakin potongan terbesar masih untuk saya. Masih sama seperti saat kamu memakaikan saya celana, seperti sepeda biru hadiah darimu waktu saya jadi peringkat satu di kelas satu hingga tiga dulu. Masih sama, Bu. Saya tidak tahu sebesar apa cintamu pada saya hingga saya masih mengingat cerita ini. Dan cerita lain yang tidak kutuliskan di sini.
Terimakasih untuk semua yang kamu lakukan sejak 19 tahun yang lalu di rumah sakit Fatimah Pare-Pare. Hingga hari ini! Untuk semua lagu yang kamu nyanyikan setiap malam sebelum saya tidur belasan tahun yang lalu. Terima kasih.
Selamat pagi, Dunia! Lama kiranya tak bersua di blog dan note ini. Wah, kamu juga kelihatan tambah besar yah?! Sudah kelas berapa sekarang?! Kemarin rengking berapa?! Adik sudah masuk SMP?!
Okeh, ini adalah postingan pertama saya di bulan Desember. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang kawan bernama lengkap Ferdy Asai Aryasah. Cek it out!!
Malam masih gelap seperti biasa dan bintang masih terang seperti malam sebelumnya. Langit malam dan bintang terang yang memamerkan keindahannya setelah berhari-hari bersembunyi di balik awan hitam. Tapi yang di atas sana bukan malam dan bukan bintang yang sepenuhnya sama. Karena ini adalah malam dan bintang di bulan Desember. Desember sekali lagi yang telah membuatku jatuh hati.
Semalam saya berencana menghabiskan waktu di rumah Asai, mumpung sedang tidak ada kerjaan. Rencananya mau numpang nonton film dan tentu saja sambil numpang makan (Kalau ada. Dan ternyata ada, sebuah mangga matang (dan kecut) dan sekotak besar susu ultra basi).
Sesampai di markas 421. Asai bertitah, “Tyar, ada susu di atas meja, coba minum kalau masih bagus! Baru kemarin ku buka”. Saya pun dengan sigap menghampiri meja makan. Tanpa jaim, tanpa gengsi, tapi masih bercelana, “Iyah, coba kuliat dulu.”
Saya membuka penutupnya perlahan dari atas, nampaklah susu yang putih langsung di depan mata saya. Tanpa penghalang! Saya mendekatkan hidung juga dengan perlahan, semula saya ragu, dan akhirnya saya mulai berani menciuminya dengan tangan kanan saya masih memeganginya dari samping, menikmati setiap sensasi dari susu yang putih. Sensasinya sungguh sangat berbeda. Beda seperti fantasi saya selama ini. Arghh! Ngomong apa sih saya?! Sayang seribu sayang, susu ultra itu ternyata sudah basi. Padahal baru dibuka kemarin. Masih sangat muda. Mari kita menundukkan kepala dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Singkat cerita, rutinitas seperti biasa berlangsung, saya numpang salto dan meroda di beranda. Okeh, yang ini saya bercanda. Yang benar, saya di ruang tamu memencet tombol kibor dan berkelahi dengan nyamuk yang bergiliran bergantian mencicipi darah saya yang terkenal gurih. Dan daging saya yang bisa bikin awet muda dan umur panjang (Kera sakti mode: ON). Tiba-tiba, terdengar suaranya dari dalam kamar.
Dan naluri saya sebagai cowok panggilan pun menanggapi panggilannya seraya bertanya “Kenapa?!”
“Bla..Bla..Bla..”
“Hahaha~”
“Cewek itu begini, Tyar… Bla..bla..blaa”
Saya kurang focus dengan ceritanya. Karena jemari dan tangan saya sendiri sedang keasikan sendiri kirim-kiriman pesan singkat dengan seorang gadis di ujung sana. Siapa dia?! Ah, kau selalu saja mau tahu. Dia adik kelas saya di Smunel, yang saya kenali juga dari jejaring facebook.
1 Pesan diterima, pesan terkirim, 1 pesan diterima, pesan terkirim, begitu seterusnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi jemari masih sangat lincah bercanda dengan kibor Nokia 6030. Dan kembali 1 pesan diterima, dari nomer yang berbeda. Bukan dari nomer yang tadi. Ternyata dari nomernya si meghy yang isinya cuman “abang ?”. Mungkin naluri wanita yang merasakan hal aneh saat tunangannya mencoba untuk menyeleweng yang membuatnya mengirim mesej seperti itu dan saya tidak peduli, yang penting dia tidak tahu.
Dan Asai masih saja berceloteh tentang banyak hal yang tidak terstruktur. Di tengah-tengah cerita-ceritanya, airmukanya yang ceria dan bersemangat berubah perlahan. Dia diam dan bergeming. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit tapi jelas pikirannya tidak di sana. Mungkin di langit baris dua atau di balik gunung, di atas awan, atau mungkin menerawang mencari ruang di dalam memori tentang seseorang. Ah, entahlah! Saya tidak ingin peduli.
“Tyar, kau harusnya kayak gini”. Dia mulai bersuara lagi. Dari bibirnya mengalir apalah namanya, tapi saya tahu itu bukan datang dari bibirnya, tapi dari hatinya. Dari satu sudut di dalam sana.
Seperti inilah kiranya (saya sempat mencatatnya, keren sih menurutku)
“Aku adalah pasir di tepi pantai yang tak kau hiraukan saat kau jalan menapakinya. Aku adalah kerikil di sebuah lorong sempit yang tak kau pedulikan saat kau menapakinya. Aku adalah daun kering di kaki gunung yang kau singkirkan saat kau mendakinya. Aku adalah serpihan kayu yang ikut terbakar saat kau kedinginan di tengah malam. Tahukah kau aku bukan sesuatu yang sesuatu yang begitu mendambakan dirimu. Aku juga bukan pengagum rahasiamu. Akupun tak bermaksud memilikimu sedikitpun. Bahkan untuk menyentuhmu pun tidak. Aku hanya sekedar peduli padamu.”
Saya ingin muntah tapi takut mengotori kamarnya dan takut mengenai kecoa’ yang sedari tadi berputar-putar di hadapanku. Tak menyangka, temanku yang tumbuh kembangnya yang makin berkembang secara fisik (baca: tambah gemuk) ini bisa juga romantis ternyata. Saya yakin, walaupun wajahnya tak serupawan artis beken seperti Tukul dan Kiwil, dengan pesona, dia pasti bisa mendapatkan hati sang gadis manapun yang ia mau (Insyaallah). (Tambahan: Asai lagi jomblo, yang mau kontak silahkan hubungi customer service kami)
Sekian dulu postingan dari saya, Saudara, kalau ada kurangnya tolong ditambahi, dan kalau ada lebihnya tolong dikembalikan. Oh iyah, kami punya blog baru, segera kunjungi:
Menulisgoblog.blogspot.com
Asai, jangan marah lu! Bagus-bagus ada yang mau nulis soal kamu!
NB: Doakan nilai saya semester ini bagus yah?! Target saya, Sembilan mata kuliah saya nilainya A semua :). Amin! See you in the next postingan! LANJUT BACA DAN KOMENTARI!
Ada kekaguman sendiri dari saya kepada band yang digawangi Giring dkk ini. Sadarkan aku, Tuhan. Dia bukan milikku. Biarkan waktu. Waktu. Hapus aku.
adalah lirik yang paling saya suka.
Keterlibatannya di OST Laskar Pelangi, film yang diangkat dari novel favorit saya membuat saya semakin jatuh hati. Lagu ini memang sangat menarik apalagi dari liriknya yang mengajak kita untuk menari dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga. Namun sayang, belakangan kekaguman saya luntur seperti baju Tetreez dan Sweater Kedubes yang merahnya semakin luntur karena suka direndam kelamaan.
Okeh, Jadi begini. Saya tidak bilang bahwa saya benci Nidji, saya hanya bilang saya tidak begitu suka. Berarti tetap saja ada suka-sukanya. Sepakat?!
Ini yang membuat saya tidak begitu suka. Film Laskar Pelangi disesuaikan dengan konsumen yang SEMUA UMUR. Dan banyak sekali anak-anak kecil yang turut menonton sampai-sampai tidak salah jika dibilang film LP adalah film untuk anak-anak. Nah, di sinilah yang mejadi pengganjal buat saya yang hanya mengerti bahwa film dan musik dibuat untuk jiwa. Sehabis terlibat dalam OST LP dan Video Klipnya yang membingkai lokasi pengambilan gambar film LP, Nidji kemudian terlibat dalam Proyek:
Mereka mengisi Backsound sekaligus menjadi model dalam iklan rokok. Kontradiksi saja menurut saya. Setelah terlibat di OST LP, Terlibat lagi dalam Iklan rokok sampai dua kali.
Ada kabar bahwa Nidji tidak lagi dilibatkan dalam Sang Pemimpi. Tapi tentu saja tidak berkaitan atau mewakilkan apa-apa.
Terimakasih. Dan Maaf jika Nidji Holics Tersinggung.
Blognya keren, postingannya bagus-bagus. Udah gitu yang punya mukanya kagak beda jauh sama Tukul Leonardo Di Caprio. Ngapain atuh nunggu-nunggu lagi. Daripada cuman jadi pengagum rahasia. Update-an Blog akan dikirim Langsung ke Dashboardmu!
Salam dari semesta paling jauh. Peluk perkenalan dari saya, Andis Ichsan Mahmud. 19 tahun. Cowok. Makassar. Kriteria cewek yang diinginkan cantik, perhatian, dan cerdas. Nah Lho?!
Bagi yang suka sastra, silahkan kunjungi Galeri Sakit Hati di bagian Also Visit
Blog ini boleh baca di sini atau bungkus biar bisa makan di rumah kalau mau. Enjoy, Comeback anytime!Profil Lengkap Ku